Senin, 22 September 2014

Abu Jahal di tempeleng Hamzah

Masuk Islamnya Hamzah dan ‘Umar
Saat Hamzah dan ‘Umar bin al-Khaththab c masuk Islam, posisi kaum muslimin di Makkah bertambah kuat. Namun upaya kaum musyrikin untuk menghentikan dakwah Rasulullah n tidaklah kendor. Melalui paman Nabi n, kaum musyrikin meminta Rasulullah n menghentikan dakwahnya. Namun upaya ini pun gagal. Akibatnya, penindasan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi.

Abu Jahl semakin hebat memusuhi Rasulullah n dan kaum muslimin. Suatu kali dia bertemu dengan Rasulullah n. Dia pun mencaci-maki dan menyakiti beliau. Namun tindakannya itu tidak digubris oleh Rasulullah n dan beliau tidak berbicara sepatah kata pun kepadanya. Ternyata ada salah seorang maula (bekas budak) dari ‘Abdullah bin Jud’an mendengar hal ini. Dia pun sengaja menyingkir ke tempat pertemuan Quraisy di dekat Ka’bah dan duduk bersama mereka. Tak lama kemudian datanglah Hamzah bin ‘Abdul Muththalib sambil menenteng panahnya. Agaknya dia baru pulang berburu.
Biasanya jika Hamzah pulang berburu tidak langsung ke rumah keluarganya, namun melakukan thawaf di Ka’bah (lebih dulu). Dia termasuk pemuda bangsawan Quraisy dan berwatak keras. Ketika dia melewati maula tersebut dan waktu itu Rasulullah n sudah pulang ke rumahnya, dia (maula tersebut) berkata, “Hai Abu ‘Imarah (maksudnya Hamzah, red.), seandainya kau melihat apa yang dilakukan Abul Hakam bin Hisyam (maksudnya Abu Jahl, red.) terhadap keponakanmu, yang dia lihat duduk di sini kemudian dia menyakitinya, mencaci-maki, dan mencercanya. Kemudian dia pergi dan Muhammad sama sekali tidak berbicara dengannya sepatah kata pun.”
Mendengar keterangan ini, Hamzah tidak dapat menahan marahnya, yang Allah l memang menghendaki kemuliaan baginya. Hamzah segera keluar dan tidak menyapa siapa pun. Padahal setiap dia melewati tempat pertemuan itu dia senantiasa berbincang-bincang dengan orang yang ada di sana. Sekarang dia keluar sengaja mencari Abu Jahl untuk memberi pelajaran keras kepadanya.
Ketika Hamzah memasuki masjid dan melihat Abu Jahl duduk dengan beberapa orang, dia sengaja mendekatinya. Setelah dekat dengan Abu Jahl, Hamzah segera memukul kepala Abu Jahal dengan busur panah yang ada di tangannya hingga berdarah dan berkata, “Kau berani mencaci-makinya? Aku di atas agamanya. Aku pun mengucapkan apa yang diucapkannya. Coba balas, kalau kau berani!”
Beberapa orang yang ada di dekat Abu Jahl dari Bani Makhzum segera berdiri mengepung Hamzah karena ingin membela Abu Jahl. Tapi Abu Jahl berkata, “Tinggalkan Abu ‘Imarah (Hamzah), aku—demi Allah—benar-benar sudah mencaci-maki keponakannya dengan umpatan yang sangat buruk.”
Sejak itu, keislaman Hamzah mulai berkembang sempurna. Orang-orang kafir Quraisy mulai menyadari bahwa Rasulullah n bertambah kuat dan mempunyai pembela. Mereka pun mulai mengurangi penindasan terhadap beliau dan para sahabatnya.
Sebagian ahli sejarah menceritakan setelah mengucapkan kata-katanya di depan Abu Jahl itu, Hamzah sempat menyesal dan bingung, kemudian dia berdoa kepada Allah l di sisi Ka’bah. Akhirnya setelah merasa lega dia segera menemui Rasulullah n dan menceritakan keadaannya. Beliau pun mendoakan agar Allah l mengokohkan Hamzah dalam keyakinannya.

‘Umar Masuk Islam
Dikisahkan dari riwayat Khabbab z bahwa Rasulullah n pernah mendoakan ‘Umar agar masuk Islam. Beliau berkata, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam.”1
Suatu ketika Rasulullah n sedang berada di sebuah rumah di dekat bukit ash-Shafa. ‘Umar pun segera berangkat ke sana. Bertepatan pula di rumah itu ada Hamzah, Thalhah, dan beberapa orang lain. Hamzah berkata, “Ini ‘Umar datang. Kalau Allah l menginginkan kebaikan baginya, maka dia selamat. Kalau tidak, membunuhnya sangat mudah bagi kita.” Nabi n berada di dalam, kemudian beliau diberitahu lalu keluar.
Begitu ‘Umar masuk, Hamzah segera mencengkeram pakaian dan pedang ‘Umar sambil berkata, “Apakah engkau belum juga mau berhenti, hai ‘Umar sampai Allah l menurunkan kehinaan bagimu sebagaimana yang dialami oleh al-Walid bin al-Mughirah?!”
‘Umar segera berkata, “Aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan engkau (Muhammad n) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Ibnu Ishaq mengatakan, “Setelah ‘Umar masuk Islam, para sahabat Rasulullah n merasa mendapat pertolongan. Begitu juga halnya ketika Hamzah masuk Islam.”
Ibnu Mas’ud z mengatakan, “Kami tidak pernah mampu shalat di sisi Ka’bah hingga ‘Umar masuk Islam.”
Di dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, “Kami senantiasa merasa terhormat sejak ‘Umar masuk Islam.”
Melihat dakwah Rasulullah n semakin bertambah kokoh, mereka (orang-orang musyrikin) pun sekali lagi menemui Abu Thalib agar dia membujuk Rasulullah n. Mereka berkata, “Hai Abu Thalib. Sesungguhnya engkau telah berusia cukup matang, memiliki kedudukan dan kemuliaan. Kami pernah memintamu agar menghentikan anak saudaramu tapi ternyata tidak engkau lakukan. Demi Allah, kami tidak bisa bersabar lagi melihat dia mencaci-maki nenek moyang kami, membodoh-bodohi pemuka kami dan mencela sesembahan kami, hingga engkau menahannya dari kami atau engkau dan dia kami hadapi sampai salah satu dari kita binasa.” (Atau sebagaimana dikatakan mereka)
Hal ini sangat memberatkan Abu Thalib, yang dia harus berpisah dan bermusuhan dengan kaumnya. Dia pun menemui Rasulullah n dan berkata, “Wahai anak saudaraku, kaummu menemuiku serta mengatakan ini dan itu. Sekarang tinggallah engkau dan aku saja. Janganlah kau bebani aku dengan sesuatu yang tidak sanggup aku memikulnya.”
Ketika itu Rasulullah n menyangka barangkali pamannya telah melihat sesuatu. Mungkin dia sudah merasa tidak sanggup membela beliau dan akan menyerahkannya ke tangan Quraisy. Disebutkan dalam riwayat lain yang sahih, Rasulullah n berkata, ”Kalian melihat matahari itu?” Mereka menjawab, ”Ya.” Lalu Rasulullah n berkata, “Saya tidak lebih mampu untuk meninggalkan itu (dakwah) dari kalian, kemudian kalian terbakar dengan percikan darinya.”2

Kemudian beliau berpaling dan menangis, lalu berdiri. Ketika beliau beranjak pergi, Abu Thalib memanggilnya, “Menghadaplah kemari, wahai anak saudaraku. Menghadaplah!” Maka Rasulullah n pun menghadap kepada pamannya.
Abu Thalib bekata, “Menghadaplah dan katakanlah apa pun yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan engkau kepada siapa pun selama-lamanya.”
Melihat bahwa Abu Thalib juga tidak mampu menghentikan Rasulullah n, mereka pun bertambah sengit memusuhi kaum muslimin. Setiap kabilah menangkap orang dari pihak mereka yang masuk Islam untuk disiksa.
(bersambung)

1 HR. at-Tirmidzi. Doa Nabi n itu disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih as-Sirah hlm. 193 dan beliau jelaskan takhrijnya.
2 Adapun hadits: “Maka Rasulullah n berkata, ‘Wahai pamanku. Demi Allah, seandainya mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini, maka selamanya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah l sendiri yang akan memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya’.”
Ini adalah riwayat yang lemah sebagaimana diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah adh-Dha’ifah no. 909 dan Shahih as-Sirah hlm. 143. Kisah ini masyhur namun lemah, sanadnya mu’dhal (ada dua rawi yang hilang secara berurutan).

Syarat Mendoakan Orang Kafir

Dalam kitab sirah Nabawiyyah terdapat kisah masuk Islamnya mantan gembong musyrikin Umar bin Khattab Radhiyallahu ’anhu. Ternyata sebelum beliau memperoleh hidayah iman dan Islam Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pernah memohon kepada Allah ta’aala agar salah seorang dari dua gembong musyrikin kota Makkah memperoleh hidayah. Doanya diabadikan dalam hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ

بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan sebab kecintaan dua lelaki kepadaMu, yaitu dengan sebab ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan sebab ‘Umar bin Khattab.” (Sunan At-Tirmidzi 12/141)

’Amr bin Hisyam atau Abu Jahal dan Umar bin Khattab Radhiyallahu ’anhu keduanya merupakan pimpinan musyrikin Quraisy di Makkah. Saat kaum muslimin masih lemah dan berjumlah sedikit di Makkah kedua tokoh ini terkenal sering menganiaya para pengikut da’wah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Sebab mereka sangat fanatik membela agama nenek moyang Abdul Muthallib, yaitu agama menyembah berhala alias kemusyrikan. Dan keduanya sangat resah dan marah melihat kian hari kian banyak orang di Makkah yang meninggalkan kemusyrikan dan memeluk agama tauhid Al-Islam.

Menghadapi keadaan ini Nabi shollallahu ’alaih wa sallam malah mendoakan agar Allah ta’aala membalikkan hati salah seorang di antara mereka berdua. Dengan harapan jika salah satunya masuk Islam tentu mereka justru akan menjadi pembela dan pejuang Islam di baris terdepan. Mengingat bagaimana aktif dan semangatnya mereka membela kemusyrikan, alangkah baiknya seandainya semangat itu diarahkan untuk menguatkan barisan Islam. Maka Nabi-pun mengajukan permintaan itu kepada Allah ta’aala. Dan ternyata dikabulkan. Panah doa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam melesat dan menghunjam ke dada Umar bin Khattab Radhiyallahu ’anhu. Dan selanjutnya kitapun tahu bahwa sejak keIslaman beliau ummat Islam untuk pertama kalinya berani menyatakan keIslaman mereka secara terbuka. Sebelum itu mereka senantiasa menyembunyikan keimanan dan keIslaman mereka. Subhanallah, alangkah besarnya jasa dan peranan Umar bin Khattab Radhiyallahu ’anhu…!

Pelajaran penting yang bisa kita petik dari kejadian ini ialah bahwa ternyata Islam tidak melarang secara mutlak seorang muslim mendoakan kaum kafir non-muslim. Namun sudah tentu ada syaratnya. Syaratnya ada dua: pertama, hendaknya isi doa seorang muslim untuk orang kafir hanya berisi satu permohonan saja kepada Allah ta’aala. Yaitu permohonan agar si kafir mendapat hidayah iman dan Islam. Dan kedua, hendaknya seorang muslim mendoakan orang kafir hanya ketika mereka masih hidup. Jangan berfikir untuk mendoakan seorang manusia yang telah meninggal dalam kekafiran.

Bagi seorang yang kafir satu-satunya perkara yang ia perlukan ialah mendapat hidayah iman dan Islam. Sebab bila ia hidup tanpa iman dan Islam maka apapun yang ia lakukan di dunia menjadi sia-sia saja. Allah ta’aala tidak akan memberi penilaian apapun atas kebaikan apapun yang dilakukan seorang manusia jika ia melakukannya tanpa iman. Maka jika seorang muslim mendoakan teman kerjanya atau tetangganya atau saudaranya non-muslim hendaknya hanya satu yang ia doakan: agar si non-muslim memperoleh hidayah sehingga masuk Islam.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ

وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

”Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS Al-Kahfi ayat 103-105)

Adapun syarat kedua, doakanlah orang kafir selagi mereka masih hidup. Jangan terlambat mendoakan mereka ketika mereka telah mati dalam kekafiran. Sedangkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam saja dilarang Allah ta’aala mendoakan pamannya yang sangat ia cintai, Abu Thalib, agar memperoleh ampunan Allah ta’aala. Hal ini terjadi sesudah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berusaha mengajak Abu Thalib masuk Islam saat menghadapi sakaratul-maut.

لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ

Ketika menjelang kematian Abu Thalib, datanglah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dan didapati di samping Abu Thalib ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda kepada Abu Thalib: “Pamanku, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah, suatu kalimat yang aku akan bersaksi di hadapan Allah ta’aala untuk melindungimu”. Maka Abu Jahal dan Abi Ummayyah berkata: “Hai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka dengan agama nenek-moyang kita Abdul Muthallib?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam terus mengajak Abu Thalib mengucapkan kalimat tauhid. Dan kedua orang itupun terus mengucapkan kalimat mereka. Sehingga akhir ucapan Abu Thalib adalah ucapan mereka bahwa ia tetap mengikuti agama Abdul Muthallib (menyembah berhala/agama kemusyrikan) dan ia enggan mengucapkan Laa ilaha illa Allah. Maka bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Demi Allah ta’aala, akan kumintakan ampunan Allah ta’aala atasmu selagi Allah ta’aala tidak melarangnya… lalu Allah ta’aala turunkan surah At-Taubah ayat 113.” (HR Bukhary 5/146)

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ

وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah ta’aala) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS At-Taubah ayat 113)

Ikrimah bin Abu Jahal Radhiallahu ‘Anhu

Siapakah diantara kita yang tidak mengenal nama ini, Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam, lelaki yang dihormati kaumnya sebelum baligh? Memang benar jika kita mengatakan bahwa dia adalah junjungan  bagi kaumnya, lelaki yang terhormat, ditaati, dan mempunyai pangkat dan kekuasaan.

Akan tetapi, dia telah mengubur dirinya dalam pasir-pasir kekafiran, padahal jika dia menghendaki, dia dapat menghidupkan dirinya itu  dengan menggunakan cahaya iman. Karena itulah, ia berhak untuk mendapatkan laknat Tuhan daripada keridhaan-Nya.

Abu Jahal adalah Fir’aun umat ini. Ia hidup di Makkah sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya. Ia selalu berusaha membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat sejumlah ayat (tanda kekuasaan) Allah dan sejumlah mukjizat, tetapi mata hatinya telah lebih dulu buta sebelum mata kepalanya. Karenanya,ia pun menjadi seperti setan yang sangat pembangkang.

Sering kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merasakan gangguan dan pengingkarannya. Akan tetapi, suatu hari beliau berharap dia masuk Islam. Beliau bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan ‘Amr bin Hisyam atau ‘Umar bin Khattab.”


Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan sebab kecintaan dua lelaki kepadaMu, yaitu dengan sebab ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan sebab ‘Umar bin Khattab.” (Sunan At-Tirmidzi 12/141)



Allah mengabulkan doa Rasulullah ini, sehingga orang yang paling baik diantara kedua itu adalah ‘Umar bin Khattab yang pada akhirnya dia masuk Islam, sedangkan orang yang paling jahat diantara keduanya adalah Abu Jahal yang senantiasa memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Sesungguhnya Abu Jahal adalah pengatur siasat perang Badar bagi musuh Islam. Ia berkeinginan memberikan pelajaran bagi umat Islam. Akan tetapi, ia telah tertipu setannya bahwa ia akan mengalahkan nabi dan para sahabatnya dan tiba-tiba ia mati terbunuh berlumuran darah; dan sebelum mati, ia sempat berkata: “Bagi siapakah kemenangan hari ini?” Maka dikatakan kepadanya: “Bagi Allah dan Rasul-Nya.”

Mendengar itu, Abu Jahal mencela kaum muslimin dan bertambah kafir. Hal ini membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Fir’aun umat ini lebih parah daripada Fir’aun Musa.”

Memang benar, Fir’aun musa beriman saat akan meninggal dunia meskipun Allah tidak menerimanya. Adapun Fir’aun arab ini mati dalam keadaan kafir dan mencela Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam kondisi yang buruk penuh dengan kedengkian terhadap Islam dan nabi-Nya, tumbuh seorang remaja yang bernama Ikrimah. Ikrimah melihat ayahnya di Makkah tidak henti-hentinya memusuhi umat Islam, kemudian melihat kaumnya kalah dalam perang Badar. Ia kembali ke Makkah tanpa disertai ayahnya seperti ketika dia berangkat ke Badar. Ia membiarkan ayahnya tewas di tangan pasukan Islam, bahkan sampai penguburannya pun ia membiarkannya.

Adapun dalam perang Uhud kondisi sedikit berbeda. Pasukan Quraisy keluar dengan membawa pasukan kuda dan kebesarannya. Ikrimah berada dalam pasukan inti bersama Khalid bin Walid yang menjadi pemimpin pasukan sayap kanan. Bahkan Ikrimah membawa istrinya, Ummu Hakim, yang bertugas menabuh rebana bersama dengan Hindun binti ‘Utbah. Saat itu, Ummu Hakim mendendangkan syair:

    Ayolah, wahai bani ‘Abdid Dar

    Ayolah, para pembela kaumnya

    Pukulah musuhmu dengan pedang

Para pasukan kafir ini menjadi bersemangat. Ikrimah mengendarai kudanya yang dikendalikan setan dan kedengkiannya untuk memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Tetapi, Ikrimah meletakkan di depan matanya peristiwa tewasnya sang ayah di tangan kaum muslimin pada perang Badar. Sampai akhirnya peperangan berakhir dengan kemenangan di tangan pasukan kafir. Akan tetapi, kemenangan mereka itu merupakan kemenangan  yang tidak sempurna, sebab mereka takut serangan kaum muslimin, sehingga mereka lari menuju kota Makkah.

Dalam perang Khandaq atau Al-Ahzab, Ikrimah adalah salah satu dari ribuan anggota pasukan kafir yang mengepung kota Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-oranng Islam. Akan tetapi, mereka tercengang ketika melihat parit besar yang belum pernha mereka lihat sebelumnya. Parit ini membuat senjata-senjata di tangan mereka tidak berguna. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pengepungan pun berlangsung lama. Ikrimah tidak sabar, maka ia keluar bersama dengan ‘Amr bin Wud untuk mengajak pasukan Islam melakukan pertandingan jawara (duel satu lawan satu) dari kedua pasukan. ‘Ali radhiyAllahu ‘anhu keluar menanggapi ajakan ini. ‘Ali melawan ‘Amr bin Wud dan memperoleh kemenangan karena berhasil memenggal kepala ‘Amr bin Wud dan melemparkannya pada pasukan musyrik.

Melihat kejadian ini, Ikrimah takut sehingga ia lari seperti tikus yang ketakutan. Ikrimah meninggalkan peralatan perang dan barang-barang lainnya. Oleh karena itu, ‘Ali radhiyAllahu ‘anhu mengambilnya dan memberikannya sebagai hadiah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin. Mereka berhasil menaklukkan kota Makkah. Akan tetapi, kemenangan ini tidak terlepas dari perlawanann  kecil. Ikrimah bersama dengan Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan seorang lelaki dari bani Bakar (namanya Hammas bin Qais) melakukan perlawanan terhadap kaum muslimin.

Ketika melihat apa yang dilakukan Qais, istrinya berkata: “Wahai Hammas, apa yang kamu persiapkan?”

“Aku mempersiapkannya untuk Muhammad,” ujar Hammas.

“Demi Allah, kamu tidak akan mampu melawan Muhammad dan para sahabatnya,” tukas istrinya.

Dengan sombong Hammas berkata: “Kami akan membunuh mereka dan kamu akan mempunyai pembantu dari mereka.”

Sementara itu Ikrimah bersama teman-temannya berkumpul di tempat yang dinamakan Al-Khandamah mereka ingin melakukan permusuhan dan perlawanan terhadap kaum muslimin. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meladeni mereka dengan mengajukan pedanngnya yang terhunus, yaitu Khalid bin walid (yang mempunyai julukan Saifullah wa Rasulihi Al-Maslul yang berarti pedang Allah dan Rasul-Nya yang terhunus). Maka mereka kalah dan lari tunggang langgang, termasuk juga Hammas. Oleh karena itu, Hammas masuk ke rumahnya dan menutup pintunya, kemudian dia mengucapkan syair:

    Sungguh andai kamu menyaksikan hari Al-Khandamah

    Saat Shafwan dan Ikrimah lari kalah

    Kami disambut pedang-pedang muslim

    Yang memotong-motong setiap tengkorak kepala dan tangan

Pelarian Ikrimah bin Abu Jahal

Ikrimah lari, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengizinkan untuk membunuhnya bersama sembilan orang lainnya. Melihat ancaman mati dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, Ikrimah melarikan diri ke Yaman. Pada saat itu istrinya yang bernama Ummu Hakim masuk Islam dan meminta perlindungan dan keamanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Ikrimah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Dia aman”

Ummu Hakim melakukan perjalanan untuk mengembalikan suaminya ke Makkah. Dalam perjalanannya ini, ia ditemani seorang lelaki Romawi. Lelaki ini melihat adanya kesempatan untuk berbuat mesum karena mereka hanya berdua saja, sementara jarak perjalanan sangat jauh. Akan tetapi, Ummu Hakim menolaknya hingga akhirnya mereka berdua sampai di suatu pantai. Disinilah takdir menundukkan Ikrimah.

Ikrimah berkata kepada salah satu seorang nahkoda kapal: “Bawalah aku sampai ke Yaman dan aku akan memberikan apa yang kamu inginkan.”

Nahkoda kapal berkata, “Tidak, kecuali kamu ikhlas.”

“Bagaimana cara berikhas?” Tanya Ikrimah.

“Kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Jawab nahkoda kapal.

Dengan kesal Ikrimah berrkata: “Ini adalah Tuhan Muhammad yang kami diajak kepada-Nya.”  Ikrimah mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Ia berputar. Ia kaget, karena di depannya terdapat istrinya. Istrinya berkata: “Aku datang kepadamu dari manusia yang paling baik, mannusia yang paling penyayang, manusia yang paling santun, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku telah meminta perlindungan dan keamanan untukmu darinya. Beliau telah menjamin keamananmu, maka janganlah kamu binasakan dirimu sendiri! Kembalilah, karena sesungguhnya kamu akan aman.”

Ummu Hakim menceritakan hal ihwal pemuda Romawi yang bersamanya. Ia telah meminta bantuan kepada sebagian orang-orang pedalaman dan mereka mau memberikan bantuan. Ia masih tetap bersama dengan pemuda ini, sehingga nafsu pemuda ini tertuju kepadanya. Maka dalam perjalanan menuju Makkah, Ikrimah pun membunuh pemuda tersebut.

Saat diajak berduaan oleh Ikrimah, Ummu Hakim berkata: “Wahai Ikrimah, sesungguhnya kamu musyrik, sedang aku muslimah. Allah telah mengharamkan diriku atasmu.” Kata-kata yang seperti panah ini telah menancap di hati Ikrimah, sehingga hati Ikrimah pun terluka dan pikirannya menjadi kacau balau.

Sementara di Makkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri diantara para sahabatnya sambil bersabda: “Sesungguhnya Ikrimah bin Abi Jahal akan datang kepadamu dalam keadaan beriman dan berhijrah, maka janganlah kamu mencela ayahnya, karena mencela orang yang sudah mati dapat menyakitkan orang yang masih hidup, walaupun celaan itu tidak sampai kepada orang yang sudah mati.”
Masuk islamnya Ikrimah bin Abu Jahal

Ikrimah pun datang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selamat datang, pengendara yang berhijrah.”Beliau berdiri kepadanya, meluaskan kain untuknya, dan menyambutnya dengan sebaik-baik sambutan.

Ikrimah berkata: “Aku mendengar bahwa engkau telah menjamin keamananku, wahai Muhammad ?”

“Ya sungguh kamu aman,” jawab Rasul

“Untuk apa kamu menngajakku ?” tanya Ikrimah.

“Untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu  bagi-Nya, melaksanakan shalat, membayar zakat, menunaikan puasa, dan berhaji di Baitullah,” kata Rasul.

Ikrimah berkata: “Demi Allah, engkau tidak mengajakku, kecuali kepada kebenaran; dan engkau tidak memerintahku, kecuali kepada kebaikan.” Ikrimah mengulur tangannya dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Ikrimah berkata: “Wahai Rasulullah, aku memohon kepadamu untuk mengampuniku atas setiap permusuhanku terhadapmu, setiap jejak langkahku, setiap kesempatan aku bertemu denganmu, dan setiap perktaan yang aku ucapkan dihadapanmu atau tidak dihadapanmu.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Ikrimah:

    “ Ya Allah ampunilah setiap permusuhan yang dilakukannya terhadapku, setiap jejak langkahnya yang ia inginkan untuk memadamkan cahaya-Mu. Ampunilah perkataan yang diucapkan guna merendahkan martabatku, baik ketika dia berada di hadapanku maupun tidak dihadapanku.”

Ikrimah berkata: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mengeiuarkan satu hartapun yang telah aku gunakan untuk memusuimu, kecuali aku juga akan menginfakkan harta yang sama di jalan Allah.”

Setelah masuk Islam, Ikrimah bersumpah: “Demi Dzat yang telah menyelamatkanku saat perang Badar.” Ia bersyukur kepada Tuhannya karena ia tidak mati terbunuh dalam perang Badar (karena pada waktu itu Ikrimah masih dalam keadaan kafir, red). Ia masih tetap hidup sampai akhirnya Allah pun memuliakannya dengan Islam. Ia selalu membawa mushaf sambil menangis: “Kitab Tuhanku ! Kitab Tuhanku !“
Syahidnya Ikrimah bin Abu Jahal

Pada saat perang Yarmuk meletus dengan hebatnya dan pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam, maka singa buas Ikrimah pun bangkit dan berkata: “Minggirlah, wahai Khalid bin Walid, biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi ? Demi Allah tidak, selamanya tidak akan terjadi !”

Ikrimah berteriak: “Siapa yang akan membaiatku untuk mati ? “

Pamannya Harits bin Hisyam, dan juga Dhirar bin Al-Azwar berdiri untuk membaiatnya. Ikut bersama mereka 400 pasukan muslim. Mereka memasuki arena peperangan hingga mereka dapat mengalahkan pasukan Romawi, dan Allah pun memberikan kemenangan dan kemuliaan bagi pasukan-Nya.

Perang pun selesai. Ikrimah tergeletak terkena 70 tikaman di dadanya, sedang disampingnya adalah Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Al-Harits memanggil-manggil meminta air namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan maka ia berkata: “Berikanlah air kepada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy bin Abi Rabi’ah juga sangat kehausan, lalu ia berkata: “Berikanlah air kepada Ayyasy.” Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air dengan cepat menuju Ikrimah dan Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada untuk meminum air surga dan sungai-sungainya.

Rabu, 17 September 2014

Fir' aun mau ngalah dengan Istrinya

Allah berfirman :
فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (٨)وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)
"Maka dipungutlah ia (Nabi Musa yang masih bayi) oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.

Dan berkatalah isteri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari" (QS Al-Qosos : 8-9)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
أَنَّ فِرْعَوْنَ لَمَّا رَآهُ همَّ بِقَتْلِهِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَجَعَلَتِ امْرَأَتُهُ آسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ تُحَاجُّ عَنْهُ وتَذب دُونَهُ، وَتُحَبِّبُهُ إِلَى فِرْعَوْنَ
"Fir'aun tatkala melihat nabi Musa (yang masih bayi-pen) maka iapun ingin membunuhnya, karena ia kawatir bayi tersebut dari bani Israil. Maka istrinya –yaitu Asiah binti Muzahim- pun berusaha membela si kecil Musa dan ia berusaha agar Fir'aun menyayangi si kecil Musa" (Tafsir Ibnu Katsir : 6/222).

Yaitu istri Fir'aun berkata kepadanya : "(Ia/sikecil Musa) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak…."

Jika Fir'aun yang begitu sesatnya, begitu kafirnya, begitu bengisnya, bahkan mengaku sebagai tuhan… ternyata mengalah sama istrinya…lantas bagaimana dengan anda yang beriman kepada Allah dan hari akhirat…??, yang beriman bahwa menyayangi istri dan bersabar dengan kekurangannya mendatangkan pahala di akhirat kelak…??!!

Sungguh benar kata orang : Suami sabar disayang istri....
Tentu sebaliknya juga... istri sabar disayang suami....
Maka jika istri anda sedang ngomel sabarlah.....dan jika suami anda sedang ngomel maka bersabarlah....

berilah nasehat kepada istri/suami nanti saja tatkala sudah reda atau tatkala lagi bermesraan. Hindari memberi nasehat (atau yang lebih tepat : melampiaskan kemarahan ??) tatkala sedang emosi..

Nabi Lahir

Hari senin Nabi di lahirkan
Tanggal 12 robi'ul awal
Tahunya di sebut TAHUN GAJAH

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.”

(HR. Muslim no. 1162)

Sedangkan tahun kelahiran beliau adalah pada tahun Gajah.

لا خلاف أنه ولد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بجوف مكّة ، وأن مولده كان عامَ الفيل .

“Tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Dan kelahirannya adalah di tahun gajah.”

Canda Rasulullah dan Kemurahannya serta ziarah Qubur


Kelakar Rasulullah dan KemurahannyaMELIHAT seorang sahabatnya sedang naik kuda, Nabi saw menegur, ”Hai, mengapa kau naiki seekor anak kuda?

Sahabatnya itu terkejut dan menyanggah, “Bukan ya Rasulullah. Kuda saya sudah dewasa. Ini induk kuda, bukan anak kuda.”

Nabi tertawa, “Bagaimana mungkin? induk kuda pun anak kuda juga bukan? Apakah anak kucing?” Sahabat itu terpingkal-pingkal setelah menyadari kebodohannya.

Pada hari yang berbeda beliau melihat seorang sahabat sedang makan kurma dalam keadaan matanya yang sebelah sakit. Nabi bertanya kaget, “Hai, sungguh mengherankan. Bagaimana caranya engkau memakan kurma , padahal matamu yang sebelah sedang sakit?”

Sahabat itu tahu Nabi sedang bercanda. Dengan nada yang sama ia menjawab, “Saya makan dengan mata yang sebelahnya lagi ya Rasulullah.”

Nabi saw memang suka berkelakar untuk menghidupkan suasana ceria dengan para sahabatnya. Sehingga hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin berlangsung wajar dan tidak kaku.

Pernah Rasulullah terlambat tiba di masjid ketika para sahabat sudah ramai berkumpul. Biasanya Rasulullah sudah berada lebih dahulu di mesjid sebelum para sahabat berdatangan.

Melihat Nabi saw muncul dipintu mesjid, para sahabat langsung berdiri untuk menghormati kehadirannya.

Beliau segera mencegah seraya berkata, “Janganlah kalian berdiri menyambut kedatanganku. Aku bukan raja. Aku cuma seorang hamba Allah yang makan dan minum seperti kalian juga.”

Abu Hurairah pernah pagi-pagi bercerita kepada para sahabatnya, “Aku baru saja ditengok Rasulullah, padahal aku hanya sakit gigi.”

Ketika Rasulullah tidak melihat orang tua yang biasa membersihkan mesjid, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Kenapa orang tua itu tidak datang? Sakitkah dia, atau ada halangan yang lainya?”

Seorang sahabat menerangkan, “Orang tua itu meninggal dunia kemarin dan telah dikebumikan dengan baik.”

Nabi terperanjat. Beliau bertanya, “Mengapa tidak ada seorangpun yang memberitahukan hal itu kepadaku?”

Para sahabat berdalih, bahwa kematian seorang tua adalah soal biasa. Sedangkan Rasululah Nampak selau sibuk. Jadi mereka berpendapat tidak perlu menggambarkan hal itu kepada beliau.

Nabi menyesal sekali dan wajahnya berubah muram. Beliau lantas menanyakan dimana kuburannya. Seorang sahabat menyahut, “Jauh sekali Rasulullah.”

Nabi tetap bersikeras untuk menziarahi kuburannya. Beliau memperingatkan bahwa semua manusia memiliki derajat yang sejajar. Manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Jangan memperdayakan seseorang dari yang lainnya. Tidak ada kelebihan orang kulit putih disbanding dengan orang kulit hitam. Tidak ada kelebihan bangsa Arab daripada bangsa Ajam. Semua dinilai dari kadar takwa masing-masing.

Seperti yang dikatakan, akhirnya Nabi berziarah ke makam orang tua itu walaupun tempatnya jauh sekali dan amat terpencil. Matahari panas terik, sampai Nabi menderita sakit kepala. Pada waktu kembali ke Madinah dari luar kota tempat dikuburkannya orang tua itu, pakaiannya basah kuyup oleh keringat, matanya pedih dan merah, namun wajahnya berseri-seri karena merasa lega. [sumber: 30 Kisah Teladan, Aburrahman Ar-Raisi, Penerbit Rosda Karya]

Sesatkah kita karena Sholawat?

Sesatkah Kita Karena Sholawatan ?

Ada yang berkata “kalaulah Anda tidak suka dengan kegiatan yang saya laksanakan, silahkan !, asalkan jangan ganggu kami, jangan usik ketenangan kami dalam menjalankan ritual ibadah yang kami yakini sebagaimana yang diajarkan Rosululloh SAW dan diteruskan oleh salafuna as sholihun….
Akan tetapi, karena Anda telah mengoyak ketenangan kaum muslimin, maka sangat perlu kiranya untuk kita klarifikasi bersama, lewat media apapun itu. Mari kita diskusikan bersama, tentunya dengan tanpa maksud apapun kecuali hanya satu, yaitu mengukuhkan sebuah kebenaran.
Tidak banyak masalah yang akan saya sampaikan kali ini, berikut beberapa masalah seputar sholawatan yang perlu kita cermati bersama.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa Nur Muhammad SAW merupakan sebuah karunia besar Allah SWT yang diciptakan dan kemudian diutus sebagai Rosulnya, Firman Allah SWT
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107) [الأنبياء/107]
Artinya : dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Karena diutusnya Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat yang agung bagi orang mu’min, maka kita diperintah oleh Allah untuk bergembira atas kedatangannya, Firman Allah :
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ 58) [يونس/58]
Artinya : Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
Rahmat Allah akan meliputi dunia dan akhirat bagi orang mu’min dan hanya meliputi di dunia saja bagi orang non-mu’min. Buktinya, selama di dunia, orang yang tidak beriman tetap mendapat ni’mat Allah, ini karena rahmat Allah,dan juga karena Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rohmatun lil ’alamin, sedangkan bagi orang mu’min.Namun bagi orang mu’min, rahmat Allah akan meliputi mereka di dunia dan akhirat, dan sudah tentu hal itu juga lewat rahmat karena Nabi Muhammad.
Karena rahmat Allah, Nabi Muhammad menjamin semua umatnya untuk masuk surga kelak di hari kiamat, sabda Nabi :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى) فتح الباري لابن حجر – (ج 20 / ص 332(
Artinya : Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau, para sahabat bertanya Hai Rosululloh, Siapakah orang yang tidak mau? Rosul menjawab Orang yang taat kepadaku masuk surga dan orang yang durhaka kepadaku maka sungguh ia tidak mau (HR. Bukhori)
Jadi bukan tanpa alasan jika kita bergembira sebagai bagian dari manifestasi rasa syukur kita karena diutusnya Rosul, pembawa rahmat dan pemberi jaminan surga yang kemudian kita sanjungkan sholawat kepadanya setiap saat, firman Allah SWT
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب/56]
Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Ayat di atas jelas menyuruh kita untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sampai disini , mari kita cermati bahwa Allah SWT hanya satu kali ini saja menyuruh hambanya sembari memberikan contoh konkrit bahwa Allah juga melaksanakan hal tersebut.
Mari kita lihat firman Allah tentang perintah sholat :
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43) [البقرة/43]
Seperti perintah-perintah pada ayat lain, Allah SWT tidak pernah satu kali pun memberikan contoh, hingga sholat yang notabene adalah salah satu hal paling pokok dalam islam.
Ini bukan berarti ibadah sholat, zakat dan lain sebagainya tidak begitu penting bagi Allah, tapi ayat ini menunjukkan kemulian Rosululloh di akui oleh Allah SWT sehingga orang yang sholatpun jika tidak bersholawat kepada Nabi niscaya sholatnya tidak sah.
Ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa sholawat memang disunahkan, yang bid’ah (sesat) adalah sholawatan atau pembacaan maulid secara bersama-sama atau peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan dengan mengadakan maulid-maulid secara berjama’ah di berbagai tempat secara meriah.
Berikut ulasannya :
Tentunya, ada beberapa dasar bagi mereka yang merayakan maulid Nabi SAW dengan berbagai seremoni dalam bentuk kemeriahan dan sebagian lain dalam bentuk kekhusyu’an yang bertepatan dengan hari ataupun bulan kelahiran sang Baginda.
Padahal, semua bentuk perayaan ini dilaksanakan hanya semata-mata karena ungkapan gembira dan tentunya juga sebagai bentuk rasa terima kasih kita kepada Nabi Muhammad SAW serta dalam rangka mengikuti jejak yang pernah dilaksanakan oleh Rosul sendiri. Sebagaimana dalah hadis-Nya :
و حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 119)
Hadis di atas menerangkan saat Nabi datang ke Madinah, Beliau mendapati orang yahudi sedang berpuasa hari ‘asyuro’ (tanggal 10 Muharram).
Mengetahui hal tersebut, Rosululloh menanyakannya pada orang-orang yahudi tersebut,’’ Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa?’’
Mereka menjawab “hari ini adalah hari agung dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya serta hari dimana Allah menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Kemudian Nabi Musa berpuasa pada hari itu, sebagai bentuk rasa syukur beliau kepada Allah. Maka dari itu, kami berpuasa pada hari itu juga ” jawab yahudi
Rosululloh menyahut “Maka aku lebih berhak dan lebih utama dengan Musa daripada kamu sekalian”
Kemudian Rosululloh berpuasa (pada hari asyuro’) serta menyuruh kaum muslimin untuk berpuasa pada hari itu.
Menurut Al Hafidz Ibn Hajar , Hadis ini menjadi dasar atas perayaan maulid Nabi SAW sehingga asumsinya adalah jika Nabi Muhammad saja melakukan puasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa yang saat itu sudah tiada lagi jasadnya di dunia ini, bagaimana dengan Nabi Muhammad sebagai sayyidul mursalin? apakah tidak lebih berhak bagi kita untuk mensyukurinya dengan sholawat yang jelas-jelas diperintahkan Allah SWT?
Perayaan Maulid kolektif
Ada yang mengatakan ‘’bahwa membaca sholawat itu memang sunnah, tetapi jika pembacaan sholawat itu dilakukan secara berjama’ah, maka itu adalah bid’ah yang sesat, karena Rosululloh tidak pernah melakukannya’’.
Pertanyaanya adalah, dengan dasar apakah kelompok ini sampai berani-berani mengatakan bahwa hal tersebut (sholawatan berjama’ah) adalah sebuah bid’ah yang sesat?
Ini hanya sebuah alasan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiyah.
Kalau dzatiyah sholawat sendiri sunnah, kenapa kalau jama’ah justru menjadi sesat ?
Hal tersebut tidak lepas dari upaya para pemuka salafi wahabi yang telah disetir oleh agen yahudi untuk melemahkan serta menghancurkan umat Islam dari dalam.
Mereka takut jika kaum muslimin berkumpul bersama yang di situ terdapat ajaran-ajaran yang mengandung pemupukan rasa cinta dan penguatan iman akan menjadikan umat islam semakin kuat, sehingga agenda penghancuran terhadap Islam akan semakin sulit karena pribadi mereka yang semakin kuat yang dipupuk setiap saat.
Hadis Riwayat Abu Hurairoh RA, Rosululloh bersabda :
“ما قعد قوم مقعداً لم يذكروا الله سبحانه وتعالى فيه ولم يصلوا على النبي صلى الله عليه وسلم إلا كان عليهم حسرة يوم القيامة “
Artinya : Tiada kaum yang duduk dalam suatu majlis dengan tanpa menyebut nama Allah SWT di dalamnya dan tidak bersholawat atas nabi SAW kecuali mereka akan menyesal di hari kiamat
Yang perlu digarisbawahi pada hadis di atas adalah pada lafadz qoumun,lafadz qoumun pada hadis diatas berma’na jama’ bukan individu. Inilah yang menjadi dasar diperbolehkannya sholawat dan sholawatan (secara berjama’ah), dan tentunya tidak termasuk bid’ah.
Jika masih ada yang menganggap bahwa hal itu tidak ada dasarnya karena dilakukan dengan suara yang keras, maka yang perlu saya tanyakan adalah, “apakah pada hadis tersebut disebutkan bahwa bersholawat harus tidak bersuara, sehingga orang lain dilarang mendengarkannya?”
Apakah haram memperdengarkan bacaan sholawat, dimana memang sejak semula majlis itu disediakan bagi orang yang datang untuk bersholawat sehingga mereka juga tidak ada yang merasa terganggu sedikitpun, karena memang dari rumah ia berniat untuk mendatangi majlis sholawat?
Ada satu hal lagi yang masih menjadi perbincangan sampai saat ini, yaitu tentang mahallul qiyam, saat dimana orang-orang berdiri untuk menghormati kedatangan Nabi Muhammad, banyak dari mereka yang tidak yakin atau bahkan tidak percaya Nabi Muhammad bisa datang menghadiri majlis sholawat.
Berikut adalah hal yang sangat perlu kita perhatikan bahwa saat semua orang islam (muslim) mendirikan sholat baik wajib ataupun sunnah, dalam tasyahhud pasti akan membaca
السلام عليك ايها النبى ورحمة الله وبركاته
Dalam ilmu fiqh, kalimat tersebut tidak menggunakan dlomir ghoib, tetapi memakai dlomir khitob. Bahkan bagi yang tidak membacanya,sholatnya pasti akan batal.
Kalau saja dlomir khitob pada kalimat tersebut hanya sebuah ucapan yang tiada artinya, apakah syariat Allah berlaku seperti ini ?
Jelas bukan, itu jawabnya.
Ini merupakan sebuah dalil bahwa Nabi Muhammad dapat hadir dihadapan kita saat kita melantunkan sholawat atas-Nya.
Jika saja Nabi Muhammad hadir dalam setiap majlis sholawat kita, apakah kita dilarang menghormatinya ?
Sebuah contoh kecil, yaitu pada saat kita mengikuti penyambutan tamu agung yang dihormati di sebuah bandara. Saat tamu datang, apakah kita akan tetap duduk di ruang tunggu saja ? ataukah kita sambut ia dengan sambutan hangat ?
Kemudian apa yang layak kita lakukan saat kita menerima tamu yang tidak hanya sekedar manusia biasa? yaitu sosok manusia yang mana Allah saja menghormatinya ?
Berdiri hanyalah sebagian bentuk wujud dzohir sikap memperlihatkan bentuk gembira kita kepada Allah karena telah diberi rahmat agung berupa datangnya Nabi Muhammad SAW.
Apakah hal ini juga sesat ?
Tidak ada dari kita yang berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah tuhan.
Barang siapa yang menuduh bahwa orang yang sholawatan ialah syirik karena menyembah Nabi Muhammad, maka hal ini juga sangat tidak berdasar.
Barang siapa yang mengatakan saudaranya kafir, padahal sebenarnya tidak, maka justru orang itulah yang kafir dan setan-lah yang bangga sebagai ‘’dalang kondang’’ di belakangnya.
Wallohu a’lam…